Inilah Syarat yang Harus Dipenuhi dalam Transaksi Properti Syariah

Properti merupakan salah satu instrumen investasi yang paling menjanjikan, baik itu untuk digunakan maupun diperjualbelikan. Oleh sebab itu, banyak yang tertarik untuk membeli properti. Berbicara tentang properti, mungkin Anda sudah tidak asing dengan istilah properti Syariah. Pada dasarnya, properti berbasis Syariah ini merupakan jual beli properti sesuai dengan aturan dalam Islam. Lalu, apa saja aturan atau syarat tersebut?

Syarat Objek dan Prosesnya

1. Dilakukan secara langsung

Sesuai dengan aturan dalam Islam, jual beli barang maupun properti harus dilakukan secara langsung oleh penjual dan pembeli. Hal ini bertujuan agar pembeli bisa melihat secara nyata barang yang hendak dibeli. Selain itu, melihat langsung juga bisa mengecek apakah properti tersebut sesuai dengan apa yang disampaikan pada iklan atau tidak.

2. Detail properti harus dijelaskan

Properti yang dijual harus dijelaskan secara detail kepada pembeli. Detail yang dimaksud di sini adalah tidak hanya tentang kelebihan saja, namun juga beberapa kekurangan yang terdapat pada properti tersebut. Apabila detail tentang properti ini belum jelas, maka akad bisa dikatakan tidak sesuai dengan Syariah Islam.

3. Deskripsi properti harus sesuai

Selanjutnya, deskripsi yang dijelaskan pada iklan atau media lain harus sesuai dengan kondisi nyata. Apabila agen mengatakan bahwa properti tersebut terdiri dari 3 kamar, maka kenyataannya properti tersebut juga harus mempunyai 3 kamar. Begitu juga dengan detail-detail lainnya. Jika pembeli tidak mendapatkan apa yang disampaikan di deskripsi, ia memiliki hak untuk membatalkan transaksi.

Syarat untuk Pihak Pembeli

1. Menyerahkan data pribadi yang lengkap dan resmi

Untuk menghindari kasus penipuan, seorang pembeli harus menyerahkan identitas lengkap dan resmi. Data diri ini bisa berupa KTP, NPWP pribadi, kartu keluarga, atau akta nikah. Hal ini bertujuan agar pemilik properti tidak dirugikan oleh oknum tidak bertanggung jawab yang ingin melakukan penipuan saat hendak membeli properti.

2. Mencapai usia balig

Di dalam agama Islam, sebuah akad transaksi tidak sah jika orang yang melakukan belum mencapai usia balig atau dewasa. Hal ini juga berlaku untuk transaksi properti. Pada dasarnya, di Indonesia seseorang dikatakan balig apabila sudah melakukan pernikahan atau minimal berusia 21 tahun untuk yang masih berstatus lajang.

3. Mempunyai penghasilan yang cukup

Terakhir, pembeli juga harus memiliki penghasilan yang cukup. Dengan penghasilan yang mencukupi, pembeli bisa membayar iuran secara rutin tanpa mengalami kesusahan yang memaksa untuk meminjam atau hutang kepada pihak lain. Jika dirasa belum mampu, sangat disarankan untuk menunda pembelian atau mencari properti dengan harga yang lebih murah.

Jadi, membeli properti Syariah juga harus dipertimbangkan matang-matang agar sesuai dengan syarat tersebut. Apabila syarat sudah terpenuhi, transaksi akan berlangsung secara lancar.